Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Tradition or No Tradition

Wedding in Indonesia always include question whether we are going to use tradition or not.  Using tradition will have some consequences such as the effort is high and the overall budget is higher.  Some families then do the tradition in partial way, but I think that is not the point.  Tradition from any part of Indonesia for wedding has many regulations, and it has a deep meaning or philosophy for both bride and groom.  In my opinion, if you want to do it do it totally and completely, so it will imprint to both parties for long time.  Otherwise better not to do it at all.  Therefore, we can concentrate to do the Akad Nikah and made the ceremony according to Moslem requirement and legality.




Along the way, it is not as simple as that.  Sometime the other family requested one or two of the traditions need to be executed.  So the other side has to agree to do it as well, because both sides must do the same.  Again, these bring some consequences in the area of need more budget, efforts, involving more vendors and helpers, which cannot be avoided.  It is because both parties are not making a clear and complete agreement for both families what else that are going to be done besides the ceremony of Akad Nikah and Reception.  If this is settled then maybe the complexion of  unnecessary effort and time from both side can be avoided.

Vendor or consultant who is giving services to handle and execute the tradition is varying.  It is better if you choose the one who can provide all details necessary requirement for the ceremony including clothing, flower, decoration, MC, traditional foods, and consultation.  If we do separately, it will take more efforts.  Using tradition during wedding also needs longer planning period and more references to select the professional traditional wedding organizer.

After all the party gone, if we ask the bride and groom whether they still remember what are the meaning of each of the tradition step we were conducting during their wedding, I am sure they don’t remember a thing.  So why we should run something that in real life we do not use that philosophy anymore.  Young people are practical generation; therefore I would rather stick to give them religious messages and advises to run their family life, make it short simple and easy to remember and implement in real life.

So my advice to those who will hold their wedding party, please make sure both family are agree on the tradition.  In the case if both family came from different part of Indonesia, look for agreement which tradition will be followed.  Avoid debating on this; be flexible because it involves big families’ decision. Do not ashamed if you will not be able to run the show because of budget constraint.  Better be open and when agreed upon, do it sincerely.

Senin, 25 Maret 2013

Melepas Putri Tersayang

Melepas putri yang kita sayangi membina rumah tangga baru adalah moment yang sangat emosional.  Putri yang biasa menjadi mitra berbagi dalam menghadapi masalah dirumah sekaligus putri yang dalam setiap langkah perubahan hidupnya berbagi cerita dengan aku.  Mulai dari awal masuk sekolah, lalu berusaha mencapai cita-cita yang bisa saja berubah dalam beberapa bulan, dan dia hampir selalu mencapainya dengan segala daya upaya. 

Manakala seorang ibu pengajian meminta aku untuk menuliskan sedikit nasehat untuk putriku yang akan melaksanakan akad nikah keesokan harinya, maka cukup lama aku tercenung.  Apa kiranya yang dibutuhkannya dari ku dan apa yang mudah di ingat olehnya.  Anakku ini anak mandiri dan pejuang, male thinking-nya kuat.  Maka aku memutuskan untuk memberikan nasehat yang aku ingin share dalam blog ini.



NASEHAT IBU KEPADA PUTRI TERCINTA (menjelang pernikahannya)

Kunti tersayang,
In shaa Allah besok kamu akan melaksanakan Ijab Kabul dengan calon suami pilihan hatimu.  Ibu dan Bapak ikhlas melepas kamu untuk menjadi seorang istri yang mengabdi kepada Suami.  Dalam  bahtera pernikahan kamu nanti, akan ada masa-masa indah ada juga masa sulit.  Tetapi kalau kamu hidup berpedoman kepada ajaran agama Islam dan taat melaksanakan ibadah, in shaa Allah kamu akan mampu melalui apapun yang terjadi dalam rumah tangga kamu.

Hidup pernikahan harus dijalani dengan ikhlas, tawakal, dan sabar.  Saling sayang dan percaya satu sama lainnya.  Menjadi istri tidaklah mudah, terutama dalam menyeimbangkan antara karir serta pekerjaan dengan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga.  Sediakan waktu memasak untuk suami, dan menyenangkan hatinya selayaknya istri yang baik.  Tapi Ibu yakin, dengan tekad kamu yang kuat kamu akan berhasil menjadi seorang istri yang mumpuni, sayang kepada suami, mendukung suami dan menempuh bahtera kehidupan rumah tangga yang harmonis.

Kunti, anak ibu yang tersayang.  Jadilah istri yang sholehah, dan apabila kamu telah punya momongan, didiklah anak kamu bukan cuma kecerdasan otak semata, tapi juga akhlak dan budi pekerti yang baik berlandaskan agama.  Nah terakhir, yakinlah ibu selalu berdoa buat kamu, dan calon suami mu untuk kebahagiaan kalian selamanya.

Minggu, 03 Februari 2013

Membangun Kemandirian

Sejak menikah, saya dan suami bekerja.  Pada H+1 sejak pernikahan kami, saya langsung boyong ke rumah kontrakan suami di sebuah pavilion di Jalan Radio Dalam.  Kebetulan rumah induknya milik teman sekantor kami juga.



Kemudian saya hamil anak pertama yang tadinya kami tidak mempunyai pembantu, jadi mencari pembantu senior yang biasa mengurusi bayi untuk merawat bayi kami setelah saya harus masuk kantor kembali.  Pembantu ini kalau sore setelah saya pulang kantor, dia pulang kerumahnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami.  Jadi anak malam hari hanya bersama saya dan suami.  Dari sana kemudian terbangun apa saja kebiasaan bayi saya kala malam hari dan kedekatan kami tetap terjaga.  Saya dan suami juga sepakat bahwa kalau week end kita mau jalan-jalan ke rumah orang tua saya, maka kita tidak usah membawa pembantu.  Jadi semua kebutuhan anak kita tangani sendiri.  Sampai pada suatu hari, ibu saya berkunjung kerumah saya dan menangis, beliau mengatakan “seharusnya ibu/eyang kan bisa menjagai anakmu kalau kamu sedang ke kantor”.  Lalu saya katakan, tidak apa2 dan Ibu tidak usah bersedih karena proses ini sudah berjalan dengan baik.

Memasuki usia anak masuk TK, saya memperkenalkan anak dengan dunia social, interaksi dengan teman, tidak membelikan dia game2 komputer seperti Nintendo dan sebagainya dan lebih mengutamakan kegiatan luar ruang.  Sebagai gantinya Bapaknya mengajari anaknya duduk di depan computer lalu disuruh mengetik kata yang dia senangi, jadilah dia mengetik “Doraemon” di layar Google Search.  Maka keluar semua gambar dora emon dan dia senang.  Lalu mencoba kata-kata yang lain.  Itupun dilakukan saat dia kita ajak ngelembur di kantor pada hari Sabtu, sehingga biar dia tahu juga lingkungan kerja orang tuanya (kebetulan saya dan suami sekantor di perusahaan IT). 

Ketika masuk TK,  kami putuskan dia harus ikut antar jemput sekolah – lalu kami ceritakan bahwa kalau naik mobil antar jemput jadi banyak temen, toh sekolah tidak terlalu jauh juga.  Pada hari kedua anak saya yang tua sudah mau naik mobil antar jemput, sedang tetapi dari belakang kami masih membututi takut2 dia mogok atau ngambek.  Tapi setelah seminggu dia sudah naik mobil itu sendiri tanpa dikawal.  Setelah anak kedua lahir, dan anak saya yang kedua sudah usia sekitar 4 tahun, saya naikkan ke pesawat Jakarta – Jogja tanpa orang tua, dan disana akan di jemput oleh Tantenya.  Sempat 2 x saya lakukan,, pertama anak yang tua malah menangis karena takut, tapi dengan membujuk dan mengatakan bahwa kamu harus bangga bisa naik pesawat sendiri, maka dia lalu berani sambil menjaga adik.

Pada masa mau masuk SMU, mereka selalu ingin masuk sekolah favorit, tapi jaraknya lumayan jauh dari rumah kami, jadi saya tekankan, syarat pertama kamu harus masuk rankin karena persaingan ketat, kedua harus mampu pulang dan pergi ke sekolah naik kendaraan umum bersama teman-teman.  Intinya tidak boleh merepotkan orang tua dalam hal antar dan jemput.  Ini terus berlaku hingga kuliah.

Ketika mengenang kembali semua proses tumbuh kembang anak saya, baru menyadari bahwa saya telah mengembangkan pribadi yang mandiri pada anak.  Untuk mengambil  keputusan tertentu misalnya ikut study tour atau tidak, baru mereka diskusi sama saya bagaimana sebaiknya.  Dalam beberapa hal setelah mereka mendengar pertimbangan dari sudut pandang saya sebagai ibu, pelaksanaan program yang mereka pilih menjadi lebih kaya dan lebih mencapai sasaran.  Tetapi secara umum saya membebaskan mereka untuk memilih atau melakukan ekstra kulikuler yang mereka senangi dan dimana perlu saya ikut melakukan persiapan-persiapannya.  Bukankan anak sebaiknya di encourage dan bukan di discourage?

Keinginan untuk mandiri pada anak harus didukung oleh orang tuanya, along the way kita juga harus memberikan pendidikan moral agama agar dalam memilih langkah kegiatan atau teman mereka punya pakem yang jelas arah mana yang akan ditempuh.

Sabtu, 02 Februari 2013

Need for Achievement


Hari hujan dari pagi, udara kurang bersahabat. Hari sabtu begini biasanya anak saya masih tidur karena keduanya adalah wanita-wanita pekerja keras. Karena suasana masih sepi, maka saya membuka notebook saya hendak memeriksa bahan presentasi tentang Komunikasi Bisnis yang akan saya ajarkan di kantor untuk karyawan-karyawan baru. Tiba-tiba saya teringat kepada pertanyaan salah satu teman sesama ibu rumah tangga yang kemarin sharing sama saya “apakah cara saya mendidik anak salah, yaitu menjaga mereka sejak kecil, jemput antar sekolah agar mereka tidak bergaul dengan orang2 yang salah, dan semua kebutuhan dipenuhi, tapi sekarang mereka kok seperti kurang motivasi untuk berkarya dan kurang drive”.


Tak lama kemudian anak saya yang kecil, yang sekarang bekerja sebagai konsultan human resources di perusahaan multinasional, bangun dan menggelendot. Seperti biasa hari sabtu kita awali dengan membuat jadwal mau kemana dan apa prioritas week end ini. Lalu saya mengutarakan pertanyaan yang sangat sederhana, Kez… apakah menurut kamu cara mendidik ibu kepada kamu dan kakak itu sudah baik dan benar? Kez masih terkantuk-kantuk, dan mencoba mengerti mengapa saya bertanya seperti ini. Oh lalu saya bilang ini buat blog ibu.

Kata Kez “dari kecil tuh aku udah punya “need for achievement”, pengen selalu dapat rangking, sejak TK seneng ikut kegiatan yang bisa naik panggung dan ikut perlombaan-perlombaan. Contohnya waktu SMP aku ikut lomba story telling bahasa Inggris sampai jadi juara 2 seluruh DKI, waktu masa kuliah aku pengen banget ikut misi budaya ke Spanyol dan Portugal walaupun ibu bilang enggak punya biaya, dan nilai kuliah enggak boleh jelek, dan semua itu tercapai, dan sangat memenuhi kebutuhan untuk mencapai sesuatu yang saya miliki dalam hati saya”

Mhhh lalu saya mencoba mengkaitkan pernyataan Kez itu dengan cara mendidik saya yang dari kecil selalu melibatkan anak-anak dalam kegiatan yang sifatnya menaikan rasa percaya diri dia. Seperti misalnya, sejak TK dia saya ajarkan “kalau kamu ikut ibu ke super market lalu kamu terpisah, kamu gak boleh takut dan panic, tapi tanya sama mbak-mbak kasir katakan bahwa saya terpisah dari ibu saya namanya Tini. Nanti mereka akan bantu kamu mencari ibu. Dan ini memang pernah terjadi, walaupun Kez sempat nangis juga. Atau misalnya saya encourage dia untuk ikut lomba gambar, lomba paduan suara dan lain sebagainya. Setelah kuliah, saya memberikan pengertian bahwa masa kuliah dia hanya 4 tahun, karena biaya yang tersedia juga cuma buat 4 tahun. Maka alhamdullilah dia lulus dengan baik dan ditambah beberapa prestasi non akademik yang dia capai dan dia senangi.

Manusia membutuhkan need for achievement untuk bisa maju dan kreatif dalam menata hidup. Karena Kez punya kebutuhan itu, maka setiap awal tahun dia membuat listing apa yang ingin dicapai baik secara personal maupun secara professional – dan bagaimana mencapainya. Dari sejak dini saya membiasakan mengobrol dan diskusi dengan anak-anak tentang semua kegiatan mereka, dan dimana perlu saya melakukan coaching. Kadang bertukar pikiran karena mereka juga sekarang sudah berkembang melampaui saya kemampuannya. Tapi komunikasi dua arah ini sangat saya rasakan sebagai jembatan untuk mengetahui sejak dini apakah ada masalah yang sedang dia hadapi dan membicarakan bagaimana mengelolanya. Memiliki kebutuhan akan achievement memang sangat berpengaruh kepada drive kita dalam mengelola hidup, aktivitas sehari-hari, mengembangkan karir, berbisnis, dan seterusnya.

Dalam hubungannya dengan pendidikan anak, perasaan itu bisa ditumbuhkan sejak kecil dengan memberikan motivasi, dan menajamkan instink mereka – bukan saja kemampuan akademis.

Selasa, 31 Maret 2009

Secret Getaway







Sabtu pagi dirumah semua anggota keluarga udah pada repot mau pergi rame2 dengan semua keluarga besar, Cuma bersebelas sih, tapi seneng banget. Karena tempat yang kita tuju sudah aku percayai bakal bikin pikiran PLONG !!!.

Berangkat dari jalan Siaga, terus kearah Bogor, Sampe di Ciawi kita mampir ke Teras Air, tempat makan dan memancing ikan. Yah ok lah karena lapar ya nasi ayam kalasan, tahu dan tempe goreng plus sambal langsung disantap. Suasana menyenangkan, ada penjualan tanaman hias juga disana, biasalah anak2 pada ambil foto disana. Lalu perjalanan kita lanjutkan, dari Ciawi naik kearah Tapos. Jalanan menanjak terus, dan cukup terjal. Jalan sempit dan agak rusak, sampai akhirnya kita ketemu gate Tapos tempat sapi2 pak Harto dulu, kita belok kanan.

Nah dari sana jalan lalu menurun terus, di kiri kanan pohon pinus tinggi2 dan tampak tidak terurus. Disana sudah tidak ada mobil lalu lalang, karena kayanya itu wilayah pribadi para pemilik. Setelah sampai di pinggir sebuah sungai kecil, kami berbelok kekanan lagi. Terus jalan – aspal udah berubah menjadi kerikil, untung perginya naik crv karena keponakan yang bawa sedan rada pelan jadi jalannya.

Akhirnya kita ketemu tempatnya, disebelah kanan jalan, langsung tiga mobil kita parkir dibawah tanaman merambat loceng2 yang bersulur kebawah. Nuansa taman atau lebih tepat kebun sangat terasa, sejak kita melangkah memasuki jalan setapak dari batu2 alam yang ditata rapih tapi sangat berkesan natural diantara kiri kanan pohon bambu dan palem hutan. Gemericik air sungai, dari kolam2 ikan, tanaman yang ditata seolah-olah kita berada di hutan, tapi tetap artistik. Kita sampai di sebuah bangunan yang mirip pendopo, dan biasa untuk menerima tamu dalam jumlah besar. Tapi siang itu kami tidak diterima disana karena Cuma bersebelas, jadi kita diterima di meja makan besar ditengah kolam, pohon2 air, serta beberapa petak sawah yang indah karena baru ditanam. Pemilik adalah teman kakak iparku, sangat hangat menyambut tamunya dan kami disapa dengan ”hallo – welcome home”.. ha.ha.. uenakkkk banget dengernya.. wish punya rumah kaya gitu.. (mimpi boleh donk)...

Luas tanah sekitar 2 hektar, tapi bertangga-tangga, sehingga menambah keindahan. Dibeberpa bagian ada pondok bengong yang dari sana tentu dapat melihat pemandangan yang sangat indah. Dahulunya, waktu tanah itu dibeli pemiliknya, berupa sawah2 yang telah kering. Ada sungai dengan air yang jernih mengalir ditengah, dan disebelah timurnya tanah berupa tebing rumput dan pohon2an. Oleh pemilik yang sangat hobby koleksi tanaman langka, makanan tradisional, dan interior antik, diubah menjadi rumah kebun yang sangat asri. Ada sawah, ada kolam ikan, ada jembatan diatas sungai jernih ada tempat bisa cemplungin kaki ke kali, ada air terjun buatan yang bisa dinikmati dari panggung tempat minum kopi sore... wahhhh susah deh diceritakan dengan kata2.

Masuk ke vila yang Cuma berkamar 2, nuansa antik terasa kental. Kamar mandi dengan gentong besar airnya dibiarkan mbludak karena air dari mata air gunung – tak terbatas. Dilantai atas semua jendela dibuka sehingga udara dingin masuk dengan bebas. Ada pohon pinus yang batangnya menancap ditengah teras vila. Pemandangan dari kamar tidur atas, sangat exotik, kalau malam bisa menikmati bulan dan kunang-kunang (kalau udara tidak mendung dan hujan). Bunyi kumbang wangwung sangat kencang serta bunyi gemericik air sungai yang langgeng mengingatkan kita seakan2 kita berada di tengah hutan. Bahkan kalau malam masih ada burung hantu yang mampir... atau kadal besar yang lewat di jembatan diatas sawah menuju kamar vila.

Langsung pikiran jernih dan enteng banget. Suasana ketawa2 terus, apalagi tuan rumah sangat akrab. Welcome drinknya es cendol dan salad buah pepaya muda yang ditumbuk dengan bumbu2 ditambah ebi goreng. Sore hari kita disuguhi teh panas, dengan pilihan mau pake jahe, atau daun jeruk, atau pandan, atau kayu manis, atau pake daun sereh, atau pake jahe merah, atau kombinasi beberapa daripadanya. Anak2 mulai exciting untuk meracik teh panas ala mereka. Lalu ditemani dengan kelepon isi duren dan goreng tales.. mak nyus bangettt. Sedang enak nyeruput teh, eh tuan rumah keluar lagi dia bawa jahe panas dicampur dengan tape ketan dibungkus daun tales kecil2 sebesar kotak korek api. Katanya itu minuman jahe ala Cirebon.. duh hangat sekali.. dan manis tape sangat menyengat lidah. Apalagi minumnya dibibir pohon2 nuansa hutan...how should I express it..

Besok paginya, kita tracking didalam wilayah property mereka jadi tidak keluar. Anak2ku asik mendengar tuan rumah menerangkan ada anggrek terkecil di dunia, ada anggrek dari Papua yang mirip kaki laba2, ada anggrek yang hidup diatas 3000 meter diatas laut, dan lain sebagainya.. Kami dibawah ke green house tempat pembibitan aneka tanaman tadi. Ada ratusan jenis tanaman yang dirawat dan dikembangkan disana. Bukan untuk tujuan komersial, tapi hobby semata. Jangan harap bahwa kita kesana lalu boleh bawa tanaman pulang, wow itu sangat menyinggung tuan rumah karena semua tanaman itu adalah koleksi yang didapat dengan effort. Sesungguhnya semua tanaman itu ada ceritanya sendiri2 bagaimana dia mendapatkannya.

Setelah makan siang hari Minggu yang super mewah dengan cita rasa Indonesia, kami pamit sore harinya. Perut kenyang banget, dan bawaannya ngantuk. Bisa jadi karena kenyang atau karena pikiran kosong... bersih, nafas enak, udara segar, tuan rumah ramah dan generous. Sambil mikir kapan ya bisa kesana lagi.... dan berbisik syukur kepada Allah diberikan nikmat itu.

Jumat, 19 Desember 2008

"Hari Ibu"



Hari Ibu sudah dekat, anakku lewat YM sudah menanyakan Ibu mau kado apa? Aku hampir lupa, tapi lalu ingat ini kan hampir Desember 22.. Hari Ibu.. Anak-anaku punya tradisi untuk menyenangkan ibunya pada Hari Ibu. Sungguh suatu hal yang harus disyukuri.

Teringat aku kala Ibu ku masih berada ditengah kita semua. Ibu saya adalah sosok yang sebetulnya kurang banyak bicara dengan anak-anaknya, tetapi sangat berwibawa. Beliau adalah ibu rumah tangga sejati, sangat penyabar walaupun punya anak 4, yang tiga pertama laki-laki semua dan nakal-nakal semua. Ibu adalah istri seorang anggota Polisi, sehingga dalam penugasannya kadang ditempatkan diluar Jawa.

Aku ingat dahulu waktu anaknya masih kecil, kami tinggal di Ambon. Makan beras merah dan sulit mendapatkan sayur mayur. Karena dahulu sayuran dipasok dari Makasar, jadi kalau ada kapal dari Makasar, ya datanglah sayuran buat kami. Karena anaknya masih kecil-kecil, dan butuh nutrisi seimbang, Ibu menanam sayuran dihalaman belakang rumah. Ada kangkung, cabe merah, bayam, labu siam, dan lain-lain. Ibu juga pandai memanfaatkan buah2an dari kebun misalnya kedondong untuk dibuat setup atau manisan. Karena mungkin penghasilan seorang polisi waktu itu sangat minim, ibu membantu dengan berjualan donat di halaman depan rumah. Aku suka diajari membuat donat .. Aku ingat pernah suatu hari aku sakit gigi, dan menangis terus. Dia memangku aku sampai semalaman tidur dalam posisi duduk agar aku tidak menangis. Dan itu aku praktekan kala anakku masih kecil dan sakit panas, jadi dia aku dekap sampai lewat tengah malam baru aku tidurkan.

Waktu kami masih tinggal di Magelang, rumah tempat tinggal kami letaknya dekat sawah. Kakak2ku kalau sudah main ke sawah pulangnya membawa belut lalu minta digorengkan.. Ibu biasanya marah-marah karena ”geli” lalu suruh si mbok Cokro untuk menggorengkan buat mereka. Ibu juga yang suka menenangkan kalau Bapak marah2 karena kakak2 nakal. Ibu memang seorang yang tenang dan sangat keibuan, sering mengajarkan agar kakak beradik harus saling menjaga dan berbagi.

Setelah besar dan kuliah, aku selalu ingat bahwa Ibu itu teliti melihat perubahan mood anaknya. Misalnya apakah saya pusing kepala, apakah saya masuk angin dan lain sebagainya. Beliau selalu siap menggosok dan memberi obat lalu menyuruh saya tidur. Kalau soal kesehatan Ibu adalah pemain tunggal. Demikian juga urusan makanan, Ibu adalah juru masak handal.

Selain dari urusan perut dan kesehatan, beliau juga tidak pernah lupa memberikan pesan moral. Misalnya kalau terhadap anak laki-lakinya beliau berpesan : ”Pokoknya kalau bergaul yang bergaullah yang baik, jangan sampai suatu hari nanti ada anak perempuan datang kemari karena hamil dan kamu harus bertanggung jawab”, begitu nasehatnya. Waktu kami sudah dewasa dan satu persatu kakakku menikah dan berkeluarga, beliau sangat menjaga agar apapun yang beliau lakukan adalah adil untuk semua. Beliau adalah panutan saya, kalau sedang kesusahan saya suka merasa dia ada dekat dengan saya untuk memberikan kekuatan. Dalam sholat, aku selalu mendoakan agar beliau tenang di sisi Allah SWT.

Hal Sederhana Untuk Membantu Orang yang Lemah

Kondisi ekonomi Indonesia kian limbung. Betul sih ini karena pengaruh krisis global yang sedang melanda, tetapi paling tidak dalam hidup kita sehari-hari kita bisa melakukan hal-hal sederhana untuk meringankan beban mereka yang kurang beruntung. Dari beberapa milis yang saya ikuti ada beberapa idea atau himbauan untuk melakukan hal-hal sederhana yang bisa membantu orang-orang yang lemah disekitar kita. Sengaja saya ringkas dan menambahkan dengan apa2 yang biasa saya lakukan untuk mengingatkan kita dan sebagai referensi. Daftar ini akan diupdate manakala ada ide-ide baru.
1. Kalau beli Majalah, jangan beli di dalam supermarket atau toko buku. Tetapi usahakan membelinya dari kios pinggir jalan ataupun lapak. Sehingga keuntungan akan masuk ke orang kecil. Demikian juga kalau membeli sembako, cobalah beli dari warung agar keuntungan tidak selalu jatuh ke tangan pemilik superstrore.
2. Kalau membeli sayur-sayuran, belilah di tukang sayur lewat daripada di supermarket. Untuk mereka ada baiknya tidak usah ditawar, anggap saja kelebihannya untuk menambah keuntungan mereka.
3. Sekali-kali kalau kita lagi tidak ingin masak, kita panggil saja tukang nasi goreng tek-tek atau tukang sate yang lewat depan rumah. Selain membantu mereka agar dagangannya cepat habis, juga sebagai cara silahturahmi dengan orang kecil. Di rumah saya ada tukang sate yang bisa saya pesan lewat nomor HP nya agar lewat depan rumah saya jam sekian dan pesan sate berapa tusuk. Lalu dia akan mampir dan membawa pesanan kita.
4. Gunakan hari sabtu minggu anda untuk wisata kuliner ke pasar tradisional. Disana juga banyak tukang jajanan tradisional misalnya kue pancong, kue pepe dan lain sebagainya. Ini saatnya kita membeli produk mereka sekaligus membantu pedagang pasar tradisional untuk tetap berdagang agar tidak tergusur oleh raja-raja hipermarket dengan modal raksasa.
5. Bagi yang suka ke salon kecantikan, sekarang ada jasa creambath yang bisa dipanggil kerumah. Ini artinya memberi pekerjaan bagi orang kecil yang berjuang untuk bekerja sendiri tanpa modal besar. Selain itu juga daripada pijet refleksi ke salon, kenapa tidak panggil mbok pijet kerumah sekedar memberi uang lauk pauk bagi mereka kan. Untuk para pria, mungkin tidak ada salahnya mencoba cukur di tukang cukur pinggir jalan. Asal model tidak terlalu sulit, saya rasa mereka bisa melakukannya dengan baik.
6. Kalau mau service mobil pergilah ke bengkel kecil saja tidak perlu ke dealer resmi yang besar dan mahal.
7. Selain untuk menghindari kemacetan, cobalah seminggu sekali pergi ke kantor menggunakan kendaraan umum. Selain memberikan penghasilan kepada supir angkot, juga kesempatan untuk melihat kehidupan orang-orang marginal yang adakalanya lebih murni. Ini juga saatnya melihat dan merasakan kehidupan orang kecil, serta mengasah kepekaan kita.
8. Kalau ada pemulung lewat depan rumah kita setiap hari, cobalah sekali sebulan suruh dia memotong rumput dihalaman rumah kita lalu kita kasih honor Rp. 25.000, pasti dia sudah senang. Sekalian melatih dia bahwa kalau dia bekerja dia akan mendapat uang imbalan sekedarnya.
9. Selain dari simpati kita berupa membagi rezeki, kita juga bisa empati dengan cara tidak mengklakson gerobak tukang pulung yang sedang lewat didepan mobil kita. Bunyi klakson itu sangat menyakitkan telinga mereka, dan pikirkan bila kita yang dalam posisi mereka.
10. Kalau makan di restoran, berilah tips sewajarnya pada para waiter. Ini adalah sikap berbagai kala kita membelanjakan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan di kafe atau restoran di mal-mal.

Selasa, 02 Desember 2008

Tari Saman




Minggu lalu anakku yang bungsu bersama group tari Saman Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia memenangkan Juara 1 Lomba tari tradisional dalam rangka Olimpiade UI. Setiap tahun UI menyelenggarakan Olimpiade UI yang terdiri dari lomba Seni dan Olah Raga. Dicabang Seni yang dilombakan adalah tari tradisional, musik, teater dan photografi.

Sudah sejak SMU Keisha sangat mencintai Tari Saman, dan asyik sekali dengan Group Saman SMU 47, hingga sekarang masuk perguruan tinggi juga menekuni hobbynya yang satu ini. Karena kegemaran anakku ini aku mencoba mempelajari dari Keisha dan beberapa sumber lain, dibawah ini adalah informasinya.

Latar Belakang Tari Saman
Tari Saman yang berasal dari dataran tinggi Gayo, Nanggroe Aceh Darussalam biasanya dibawakan kaum adam pada acara keagamaan. Tari Saman diciptakan dan dikembangkan oleh seorang tokoh Agama Islam bernama Syeh Saman. Namun sekarang tarian ini semakin populer dan di Jakarta lebih banyak dibawakan anak-anak perempuan. Kini tarian ini tidak hanya milik warga Aceh, tetapi lebih sebagai tari nasional karena seringnya tari Saman dibawakan dalam event internasional.
Tari Saman biasa diiringi gendang, lagu (tembang) dalam bahasan Aceh, Arab dan bahasa Indonesia, disertai tepuk tangan para penari yang dikombinasikan gerakan memukul dada dan pangkal paha serta menghempaskan badan ke berbagai arah. Kekompakan para penari, akan menghasilkan sebuah irama yang indah apalagi dengan kostum yang beraneka ragam penuh harmoni. Kenapa tari Saman membentuk garis vertical, itu memaknai saat orang Sholat yang membetuk shaf. Gerakan-gerakan yang seragam juga memaknai gerakan saat orang sholat berjamaah.

Mengapa menjadi popular di kalangan remaja ?
Tari Saman adalah tari tradisional yang mempunyai tingkat kesulitan tinggi. Untuk menguasai gerakan tari Saman secara sempurna peserta harus mempunyai ketahanan fisik yang tinggi, kecepatan gerakan tangan, badan, dan kepala yang sinkron antara sesama anggota tari, serta pemahaman secara benar akan makna lagu. Detail gerakan serta kekuatan menghentaknya berpengaruh kepada keseluruhan tari Saman. Oleh sebab itu perlu latihan dan disiplin para peserta untuk menghasilkan tari Saman yang memukau. Disiplin ini sangat perlu karena kekompakan tidak bisa terbangun dalam waktu sekejap, waktu latihan yang panjang juga diperlukan untuk kesempurnaan gerak tangan, bahu, kepala dan harmoni berbagai blocking (formasi) yang bisa diubah-ubah sesuai dengan kehendak para penari.
Menurut pengamatanku tari Saman kerap dipertandingkan di kalangan SMU karena berbagai hal, misalnya:
• Tingkat kesulitan yang tinggi dari tari Saman menimbulkan keinginan untuk menunjukan tingkat kompetensi antar sesama pelajar.
• Tari Saman menimbulkan rasa berkompetisi yang sehat dan merangsang kreativitas.
• Penjiwaan terhadap gerakan-gerakan tari, saat mana harus lemah gemulai saat mana harus cepat menghentak. Ada emosi saat menari. Penari juga dituntut untuk bisa menyanyi selain menari.
• Mimik atau ekspresi kala menari, karena mimik menciptakan komunikasi dengan penonton, kapan senyum, kapan harus benar2 mengikuti arah pandangan mata sesuai tariannya.
• Menimbulkan rasa kebanggaan mampu menari Saman dengan baik dan betul.
• Menimbulkan rasa cinta tari tradisional Indonesia yang positif daripada lomba tari yang bukan berasal dari budaya sendiri.


Komitmen
Menjadi penari Saman harus mempunyai komitmen. Tidak bisa sebuah group tari Saman melaksanakan latihan hanya dengan beberapa orang yang datang. Karena gerakan Saman mempunyai fungsi penari genap dan ganjil, maka saat latihan harus selalu full team. Oleh sebab itu sangat krusial bagi sebuah group Saman agar setiap anggota mempunyai komitmen untuk berlatih pada waktu yang sama.

Menjadi anggota penari Saman membentuk rasa kebersamaan serta rasa kompak bukan saja pada saat menari atau latihan, tapi diluar itu. Setiap anggota jadi saling sharing, saling mendukung, saling peduli dan menolong demi satu tujuan bersama.

Makna gerakan Saman dalam Bisnis
Dalam sebuah pertemuan tahunan kantorku dahulu, kami menyajikan Tari Saman sebagai tarian pembuka, dan penonton diberikan narasi yang bisa menghubungkan tari Saman dengan prinsip-prinsip bisnis seperti teamwork, harmony, creativity, disiplin, speed, one goal, commitment, dan superior result dalam pekerjaan kita sehari-hari sebagai profesional.

Senin, 24 November 2008

Kekuatan Alumni





Setiap perusahaan besar yang baik tentu mempunyai banyak alumni yang telah keluar dengan berbagai alasan. Bagi alumni yang telah cukup lama bekerja pada perusahaan tersebut, tentu mempunyai pengalaman bagus dan bermanfaat yang dia bawa ke jenjang pekerjaan dia berikutnya. Sama halnya dengan alumni sebuah perguruan tinggi yang bagus dan ternama. Para alumninya pasti membawa nilai-nilai yang telah diterapkan saat belajar di perguruan tinggi itu.

Tidak jarang kita temui bahwa para alumni dari suatu perusahaan multinasional membentuk club dengan berbagai kegiatan, mempunyai milis dan melakukan kegiatan sosial bersama-sama. Para alumni ini – apabila dahulunya keluar dari perusahaan dengan alasan yang positif, untuk waktu lama sesudahnya pasti masih memegang kecintaan lamanya kepada perusahaan yang memberikan pengalaman2 inti dalam menjalankan bisnis.

Kalau di kaji, para alumni ini sebetulnya mempunyai kekuatan bisnis. Apabila perusahaan induknya masih memberikan tempat atau wadah untuk misalnya setahun sekali mereka bisa berkumpul dan saling cerita, maka bisa diharapkan diluarpun atau dilingkungan mereka yang baru mereka masih membicarakan perusahaan awal mereka dengan baik dan positif. Bisa dibayangkan bahwa sebuah cerita “bagus” akan menyebar lewat para alumni ini tentang hal-hal bagus yang dahulu pernah dialaminya.

Sebagai contoh IBM Indonesia. Perusahaan ini termasuk yang masih menghargai para Alumni, dan pada kesempatan tertentu misalnya Ulang Tahun IBM Indonesia, mereka mengundang para alumni untuk suatu acara pertemuan sosial. Dari sisi bisnis, para alumni ini bisa menjadi pelanggan, atau menjadi pendidik, guru, dosen, atau lain-lain profesi yang pada waktu mereka bekerja kerap memberikan contoh kejadian semasa mereka bekerja di IBM Indonesia. Selain bisa menjadi pedorong citra positif bagi perusahaan di mata publik, hubungan ini bisa dikembangkan secara berkesinambungan.

Para alumni juga ada yang menjadi public figure. Bila kesan yang bersangkutan kepada IBM Indonesia tetap bagus dan terjaga, alumni ini bisa memberikan referensi yang positif kepada media massa tentang berbagai hal, misalnya tentang good corporate governance, tentang how to retain good employee, dan banyak hal lagi. Oleh sebab itu para alumni juga sebaiknya masih diberikan pencerahan tentang perkembangan perusahaan yang terkini.

Diantara para alumni sendiri, kadang saat berkumpul bisa dijadikan ajang bertukar pikiran. Baik untuk para alumni yang sudah pensiun maupun yang masih muda dan berkarya. Tali silahturahmi jadi terhubung dan dalam kasus ada yang mendapat cobaan, maka lewat milis biasanya dengan segera sesama alumni bisa segera memberikan perhatian. Dari sebuah pertemuan para alumni IBM Indonesia beberapa waktu yang lalu, acara dilengkapi dengan pencerahan dari beberapa anggota yang berbagi pengalaman dalam memulai bisnis, berbagai kegiatan sosial bahkan hal-hal yang sifatnya spriritual.

Kesimpulannya, jangan remehkan acara2 reuni, atau kumpul2 sesama mantan SMU atau perguruan tinggi. Karena lebih banyak manfaatnya daripada kerugiannya.

(Photo diambil dari Sanbima Gathering di Griya Dunamis, 29 Nov 2008)

Jumat, 26 September 2008

Family Value

Semalam, disalah satu stasiun televise, dibicarakan masalah Family Value, yang salah satunya adalah perlakukan kita kepda PRT atau pembantu rumah tangga. Dicontohkan ada sebuah keluarga yang mempunyai PRT sudah bekerja 29 tahun di rumah keluarga ini. Dia bekerja disana hingga menikah dan punya anak. Kenapa sang PRT bisa begitu lama betah dirumah keluarga ini ? Kemudian diperbincangkan.

Selain dari hal-hal yang dibicarakan disana, memang banyak rumah tangga yang bisa mempertahankan PRT mereka sampai waktu yang cukup lama. Kalau aku teliti ada beberapa hal yang umum ditemui, misalnya beberapa dibawah ini:
• Umumnya mereka memperlakukan PRT seperti keluarga sendiri.
• Tidak membedakan makanan yang dimakan didalam dan yang dimakan dibelakang. Bagi PRT ini adalah big deal, karena mereka kemudian merasa diperlakukan sama dengan keluarga majikan.
• Berkomunikasi dengan gaya kekeluargaan, tidak kaku sehingga tidak terlalu terasa siapa boss siapa pembantu.
• Memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi pada PRT. Ada seorang ibu yang kalau keluar kota maka PRTnya yang memilihkan baju sampai padu padan dengan asesoris, tas dan sepatu. Termasuk untuk pengelolaan keuangan rumah tangga sehari-hari dalam jumlah kecil. Bahkan ada yang mempercayakan kunci-kunci lemari kepada PRT nya.
• Memberikan perhatian pada keluarga PRT, dan termasuk bila dia sedang sakit untuk dibawa ke dokter dan dibelikan obat.
• Kalau PRT sudah punya anak, ada keluarga yang menyekolahkan anak PRT. Pada suatu hari aku mampir kerumah kerabatku dan mendengar dia sedang memberi pelajaran bahasa Inggris. Ternyata kerabatku itu sedang mengajar bahasa Inggris anak PRT nya yang baru masuk SMP. Aku sempat tersentuh, karena jarang ada majikan yang mau meluangkan waktu untuk anak PRTnya.

Dilain pihak, memang tidak juga bisa dipungkiri bahwa tidak semua PRT baik dan tahu diri. Maka bila kondisi diatas cocok dengan karakter dari PRT maka hasilnya akan bagus. Tetapi ada saja PRT yang sudah diajari tapi tetap tidak bisa dibina karena malas, tidak ada semangat belajar, suka bohong, dan lain sebagainya. Belum lagi kalau mereka cuma berorientasi kepada uang.

Pada masa bulan Puasa dan mendekati Idul Fitri, masa dimana PRT pulang mudik, memang terasa bahwa bagaimanapun jasa mereka masih dibutuhkan untuk kelancaran pekerjaan rumah tangga kita. Tahun ini aku tidak menggunakan PRT infal selama PRT pulang kampung. Alih-alih, aku mengajak anak2ku dan suami untuk bekerja sama berbagi pekerjaan, dengan harapan agar anak2 juga bisa merasakan capeknya untuk memantain rumah agar tetap bersih, teratur dan rapih. Capeknya PRT sama dengan capek kita, karena kita sama2 manusia – itu nilai yang ingin aku berikan kepada anak2 agar kelak bisa memberikan apresiasi kepada pekerjaan PRT. Lagi pula kerjasama dirumah mempererat hubungan antar anggota keluarga, bukan ?

Jumat, 15 Agustus 2008

Komersialisasi Profesi Dokter

Salah seorang kerabatku bercerita, adiknya sakit pinggang, tampaknya ‘kecetit’ sehingga bila berjalan tidak bisa tegak dan terasa nyeri. Ada yang bilang, itu salah urat, atau ada syaraf yang terjepit di tulang belakangnya.

Mereka membawa pasien ke dokter di sebuah rumah sakit. Hanya dengan melihat pasien tanpa menjamah dan memeriksa, dokter langsung berkata...ohh ini mungkin ada tulang yang retak atau patah. Kerabatku itu sudah mengerutkan keningnya, kalau patah tulang mungkin pasien udah gak bisa berdiri dan berjalan. Tapi yah karena disuruh untuk rontgen ya pergilah mereka ke bagian rontgen.

Setelah menunggu hasil, dokter bilang tidak ada yang patah atau retak. Tapi pasien harus menggunakan alat bantu agar badan atas bisa tetap tegak. Lalu dengan enteng dokter tersebut memberikan brosure tentang alat penyangga dada dan pinggang, dan pada brosur sudah ada cap nama salesmannya serta nomor telpon yang bisa dihubungi, ternyata alat tersebut cukup mahal.

Pengalaman lain, beberapa bulan lalu aku mengantar pembantuku yang sakit kulit, gatal2 karena alergi sabun tertentu. Setelah diperiksa, dokter kulit tersebut membuatkan resep berupa obat salep dan bedak. Lalu dengan simpati dia menawarkan untuk menelponkan langganan apotiknya biar bisa segera diantar ke alamat rumah, kan praktis katanya. Aku menyetujui dan kemudian dia menelpon Apotik dan menyebutkan obat tertentu dan memberitahu alamat rumahku. Sampai dirumah, tidak lama kemudian datang petugas apotik tersebut dan membawa obat. Betapa kagetnya karena obatnya mahal sekali, sudah dituang dalam wadah plastik sehingga aku tidak bisa melihat kemasannya dan merknya.

Cerita sejenis beberapa kali aku dengar dan intinya adalah sekarang sudah semakin genjar kecenderungan dokter di rumah sakit menyuruh pasien untuk melakukan pemeriksaan tertentu yang belum tentu perlu betul, hanya untuk mendapatkan revenue. Pada jaman krismon seperti sekarang ini dimana pasien juga sangat keberatan dengan biaya kesehatan yang mahal, seharusnya dokter punya empati untuk membantu pasien menerima jasa kesehatan yang berkualitas dengan harga yang memadai atau wajar

Rumah sakit juga menarik keuntungan dari asuransi kesehatan. Pernah suatu hari aku sakit diare yang berulang, sambil memeriksa aku dokter yang sudah senior disebuah rumah sakit elite itu, tanya-tanya apakah aku masih kerja. Apakah aku dicover asuransi, apakah suami bekerja dan di perusahaan apa. Ehhh taunya dia kasih obat yang mahal.. Sejak itu kalau aku ke dokter aku langsung bilang dok, obatnya yang generik aja, uhhh susah dan mahalnya jadi pasien di Indonesia. Tidak heran kalau ada program sosial periksa kesehatan gratis peminatnya membludak ... cermin kondisi rakyat yang sedang susah...

Jumat, 08 Agustus 2008

Baby's First Steps

Saat pertama kali bayi kita bisa melangkah, itu adalah moment yang sangat bersejarah bagi bayi dan bagi ibunya. Kemarin aku memberikan kesempatan kepada 4 orang mahasiswi yang belum pernah mengerjakan tugas resmi sebagai petugas registrasi pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh kantorku.

Ini sebuah peristiwa kecil dan sederhana, tapi kalau dilihat dari antusiasme mereka bekerja itu sebuah berkah. Sehari sebelumnya kami melakukan briefing pada para petugaas registrasi dan penerima tamu tentang tatacara yang harus dilakukan dalam sebuah seminar resmi. Dari mulai cara penggunaan pembuatan stiker name tag yang dihubungan langsung ke 4 buah laptop untuk para peserta, sampai cara mengontrol berapa banyak peserta seminar yang sudah datang versus yang mendaftar dan sebagainya.

Seminar berjalan lancar, 4 orang muridku ini secara kebetulan bertugas dengan perangkat IT untuk memproduksi name tag tersebut. Jadi ini sudah merupakan pembelajaran bagi mereka bahwa ada alat yang praktis untuk membuat name tag dengan software dan printer mungil yang dihubungan kepada laptop mereka masing-masing. Sambil membuat name tag mereka juga harus menyerahkan seminar folder dengan pesan-pesan tertentu pada peserta seminar. Muka harus selalu tersenyum, kalau ada printer error atau kertas stiker habis, harus diisi dengan tetap tersenyum walaupun peserta udah mulai panjang menunggu. Yang lain segera dengan gesit mengalirkan peserta2 yang menunggu pada line menunggu yang lain, agar tidak ada yang menunggu terlalu lama.

Pada siang harinya, mereka punya kesempatan untuk ikut mendengar materi seminar beberapa saat secara bergantian. Ini bermanfaat untuk mereka tahu apa dan bagaimana sebuah seminar teknologi informasi dilaksanakan. Bagaimana cara penyampaiannya dan bagaimana reaksi peserta bila bahasa yang digunakan selama seminar adalah bahasa Inggris.

Sepulang dari seminar, semua gembira. Yang punya latar belakang jurusan komunikasi mengatakan bahwa dia bisa langsung menggunakan ilmunya untuk menyampaikan pesan2 kepada peserta seminar walaupun untuk hal-hal sederhana. Sedangkan yang lain senang melihat cara mengorganisasikan semua kebutuhan seminar dan orang-orang yang bertugas dengan baik dan terstruktur. Yang lain lagi tertarik dengan tata panggung, dan yang satu lagi sibuk menganalisa komentar tertulis dari para peserta. Selain itu, mereka juga belajar bahwa data dari peserta adalah sangat penting. Data itu tidak boleh tidak lengkap, nah bagaimana melakukan komunikasi yang baik dan sopan agar peserta mau memberikan data yang rinci tanpa paksaan.

Dalam kendaraan pulang, mereka menerima honor mereka masing-masing... Ohhh, senangnya ini adalah my first job, and my first salary, kata mereka semua. Rasa gembira dan puas dari wajah-wajah polos para mahasiswi semester 3 berbagai universitas itu juga memberikan kegembiraan bagi aku. Karena dengan demikian mereka sudah mendapatkan sebuah pembelajaran, dan ilmu itu bisa dikembangkan di kemudian hari. Aku berpesan pada mereka bahwa pekerjaan sederhana ini jangan dipakai hanya untuk mencari uang, justru cari pembelajaran apa yang bisa didapat dan lakukan dengan gembira. Niscaya hasilnya juga akan bagus... semoga.

Sabtu, 21 Juni 2008

In Memoriam Prof. Drs. Wiyoso Yudosepoetro

Juni 19, 2008, jam menunjukkan pukul 14.15. Aku sedang berkutat didepan computer dikamarku, tiba2 telpon berdering dan ternyata sepupuku yang mengabarkan Oom Wi telah meninggal dunia tadi siang. Badanku terasa lemas sekali dan aku sampai menyebut namanya tiga kali untuk meyakinkan bahwa Oom Wi benar2 sudah tiada. Innalilahiwainallilahi rojiun! Aku segera memberi kabar kakak2ku dengan suara terhisak aku mengatakan bahwa Oom sudah perpulang ke hadirat Allah SWT.

Aku tidak pernah mendengar beliau sakit, atau mengeluh soal kesehatan. Aku juga dengar bahwa beliau sudah berhenti merokok. Beberapa minggu terakhir aku memang mengingat beliau, wah.. sudah lama enggak nengok Oom Wi. Ternyata belum kesampaian bisa ketemu Oom Wi ternyata beliau sudah mendahului kita semua.

Pada detik-detik pemakanan Oom Wi aku terhenyak dengan banyaknya fakta yang baru kini aku ketahui tentang pamanku yang satu ini. Oom Wi adalah panggilan sayang kami kepada Prof. Wiyoso Yudosepoetro, adik dari ibuku Soekmani, yang telah mendedikasikan seluruh waktu dan pikirannya selama karirnya sebagai dosen kesenian untuk mengajar dan melahirkan seniman2 baru pada generasi sesudahnya.

Sepenggal kutipan dari Majalah Asri 26 September 2006 yang memperlihatkan kecintaannya pada seni patung :

”Pak Wi, panggilan akrab Prof.Dr.Wiyoso Yudoseputro, hampir 50 tahun setia pada bidang pendidikan. Selama kurun waktu yang demikian panjang, beliau mengajar sejarah seni dan budaya di Seni Rupa ITB, almamaternya, di Seni Rupa USAKTI dan di Seni Rupa IKJ. Sampai kini beliau masih pulang pergi dari Bandung ke Jakarta setiap minggu. Tak heran bila hasil karya seni rupa peninggalan nenek moyang kita telah menyatu dengan dirinya. Tokoh-tokoh legenda, dewa-dewa dari kepercayaan Hindu dan Budha, bentuk totem dan patung primitif, area yang ada di candi-candi dan motif hias masa lalu di seluruh Nusantara, menjadi ide dan inspirasi pada karya patungnya.

Mandala Gita Lalita (Keabadian keindahan lagu suci) misalnya adalah berupa patung kepala wanita yang berkesan magis, sedangkan Nagagini (istri Bima dalam fragmen Mahabharata) berupa patung dari akar kayu berbentuk ular naga yang diberi warna. Seni mematung yang berlekuk-leluk dengan detail-detail rinci menjadi kekuatan pematung senior kita ini. Walaupun patung karya Wiyoso masih menampilkan seni masa lalu, karya tersebut dapat menjadi aksen kuat bila ditempatkan pada ruangan di rumah-rumah bergaya modern. Banyak pula desainer interior yang memilih arca antik atau replikanya untuk aksen pada pintu masuk atau untuk aksen pada ruangan. (Majalah Asri)

Dengan perasaan kehilangan yang masih sangat mencekam, aku mencari semua informasi dan pemberitaan tentang Oom Wi di internet, berikut adalah yang aku sangat kagumi :

IKJ LAHIRKAN GURU BESAR PERTAMA
Prof Drs Wiyoso Yudoseputro dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), di Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, kemarin.

Wiyoso dikukuhkan setelah menyampaikan pidato ilmiah berjudul Pluralitas Ekspresi Visual dalam Kesinambungan Tradisi Seni Rupa Indonesia di hadapan anggota Senat IKJ.

Dalam pidatonya, Wiyoso menegaskan bahwa Indonesia memiliki ciri dasar dalam seni rupa, yaitu ungkapan yang sangat majemuk, yang selalu berorientasi pada tradisi.
Wiyoso memberi contoh, candi-candi agama Hindu yang semula direduksi dari kebudayaan India, kemudian diadaptasi seniman Indonesia sehingga menjadi ciri khas yang tidak ada di India sendiri.

"Mula-mula menerima pengaruh India. Tapi dalam perjalanannya, mengalami akulturasi, kesenian yang menjadi tradisi Indonesia. Sehingga ahli-ahli India sendiri merasa heran. Kok ini di India tidak ada," tutur Wiyoso kepada Media usai pengukuhan.

Pejabat sementara Rektor IKJ Drs Nurhadi Sastrapraja, yang juga menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemprov DKI, mengatakan bahwa Wiyoso adalah guru besar pertama yang ditelurkan IKJ setelah 32 tahun berdiri. "Beliau guru besar pertama yang dikader, dibesarkan, dan dihasilkan IKJ," tutur Nurhadi kepada Media. (SMUnet)

Pada detik-detik pemakamannya yang dilakukan dengan sangat bersahaja, beberapa tokoh akademis yang berasal dari Trisaksi, IKJ, ITB bertutur tentang Oom Wi. ”Wiyoso adalah guru sebaik-baiknya guru. Sangat konsisten, tidak pernah marah atau gusar. Indonesia telah kehilangan salah satu tokoh kesenian yang sangat berjasa”... begitu antara lain para sahabat melepaskannya pergi di pagi yang silir di Pemakaman Cikutra, di Bandung kemarin.

Kembali ke rumah Oom Wi di Taman Cempaka 6, aku kembali terhenyak. Betapa beliau adalah seorang yang sangat bersahaja. Teringat waktu aku kecil dulu, masih suka menginap dirumah beliau, selalu tidur dikamar belakang – ya sampai sekarang masih tetap begitu. Taman yang asri tetap bagus bahkan tambah bagus karena aneka ragam tanaman langka serta sangat terlihat bahwa itu terpelihara dengan baik. Dirumah Oom Wie karya lukisan dari berbagai seniman memenuhi dinding kamar tamu hingga ruang makan. Patung2, kolase, topeng dari berbagai daerah serta deretan buku2 seni yang memenuhi ruang kerjanya.

Dulu waktu aku masih duduk dibangku SMU suka diajak Tante Ari (istri Oom Wi) ke toko sepatu di Bandung dan selalu dibelikan yang bagus. Kemarin waktu pertama bertemu aku tak kuasa menahan haru memeluk Tante Ari yang bertubuh kecil tapi selalu sabar dengan kehidupan. Malah beliau yang membisikan kata2 menguatkan dan meminta maaf atas semua kesalahan Oom Wi (bila ada).

Oom Wi, pergilah dengan tenang, menghadap sang Khaliq. Kami semua mencintaimu, sahabat-sahabat dan handai taulan akan mengenang sosokmu dalam kenangan yang bening. Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa Oom Wi, dan menerima semua amal ibadahmu.... . Innalilahiwainallilahi rojiun!

Jumat, 13 Juni 2008

Layanan Antar


Siang itu aku sibuk di depan komputerku menulis siaran pers dari sebuah proyek yang sedang aku kerjakan. Tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul 11.45. Pembatu rumah tanggaku mengetok pintu kamar dan mengatakan… Bu siang ini Ibu mau makan apa, karena di kulkas gak ada lauk… Aku melongok ke jam tanganku dan sadar bahwa ini sudah dekat jam makan siang. Aku bilang, Win kamu gak usah masak untuk siang deh, nanti ibu pesan aja.

Siang hari tidak ada orang dirumah ku kecuali aku dan si Win yang setia. Kedua anakku kerja dan yang kecil kuliah. Suami kerja di kantor, dan aku karena kerja dirumah saja, jadi si Win harus menyiapkan makan siang untuk satu orang. Di tempat tinggalku di Bintaro memang surga makanan. Dan hampir semua resto, warung, pembuat makanan rumahan itu menyediakan delivery service atau layanan pesan antar. Hal ini membuat urusan perut jadi mudah dan praktis.

Jasa layanan antar sekarang tidak terbatas pada resto yang menjual makanan, tapi sudah menjamah banyak macam layanan. Misalnya aku punya langganan tukang, free lancer, yang bisa jadi tukang kayu, service alat elektronik, mengantar barang dengan motor (jadi seperti jasa ojek), dan lain sebagainya... Suatu hari anakku ketinggalan kunci kantor dirumah.. Ya tidak usah panik karena tinggal panggil tukang langganan sudah bisa dia meluncur ke Jendral sudirman mengantar kunci, lalu kita bayar 35.000 untuk jasanya. Itulah untungnya tinggal di Bintaro, sangat mudah dan praktis. Bahkan layanan ojek dari Bintaro Sudirman juga sudah diperkenalkan dan bisa dijemput kerumah. Jadi mulai makanan, tukang pijet refleksi, tukang kayu, tukang martabak, ojek, juga montir mobil, jasa mencuci mobil dirumah, tukang sayur keliling, semua bisa memberikan layanan antar atau layanan kerumah.

Kalau dilihat dari sudut pandang membuka lapangan kerja, jasa layan antar itu memang cukup unik. Apalagi sekarang pemilik motor sudah semakin banyak di Jakarta, jadi bagi mereka2 yang tidak punya pekerjaan pasti, asal mau bekerjasama dengan restoran, atau salon, maka dia bisa menjadi pelayan antar, apalagi para pengusaha resto dan jasa lainnya kan bersaing memberikan layanan yang terbaik kepada pelanggan.

Senin, 19 Mei 2008

“Perempuan”

Pagi ini aku terlibat dialog dengan pembantu rumah tanggaku, si Win, dia telah bekerja dengan ku sudah hampir 1.5 tahun. Win berkata, “Bu sedih ya suami saya kerja di tukang jahit konveksi, tapi sekarang order konveksi gak ada, sedang sepi, jadi sementara disuruh suami saya pulang kampung. Nanti katanya kalau ada order lagi, baru dipanggil”. Lalu aku bilang “Win, itu sudah berlangsung berapa lama?” Ya sudah sebulan setengah, jadi sekarang suami saya menganggur karena mau cocok tanam sekarang sudah musim kering di kampungnya di daerah Cianjur Selatan sudah kering tidak ada air. Aku bilang, Win suami mu harus mulai berpikir mau mengerjakan apa. Karena kamu bakal punya anak (si Win ini sedang mengandung) jadi pasti banyak ongkos untuk melahirkan dan membesarkan bayi. Kamu juga harus rajin menabung ya.... Win hanya tersenyum bingung...

Kira-kira dua minggu lalu aku juga terlibat dialog dengan tukang pijet ku Mbok Jiyem. Dia bilang kepadaku ”Bu, sekarang order pijet sepi. Kalau dulu setiap hari saya bisa 2-3 orang yang telpon minta dipijet, sekarang sehari satu orang saja belum tentu. Padahal kan suami saya kerja bangunan juga sangat tidak pasti, wong harga material sekarang pada naik, jadi order bangunan juga sepi”. Sambil mendengar celoteh Mbok Jiyem dan merasakan enaknya pijetan, aku berpikir... wah si Mbok Jiyem ini tulang punggung juga buat keluarganya dan sekarang ekonominya menurun. Aku mencoba menerangkan bahwa pijet bagi keluarga2 pelanggan kamu mungkin sekarang sudah jadi prioritas ke sekian, karena dana keluarga untuk membayar kebutuhan utama misalnya listrik, telpon dan makanan. Mbok Jiyem mengangguk2, lalu dia bilang. ”abis saya mau dagang kue2 juga terlalu sering diutang sama tetangga2”... duh.

Aku juga jadi inget, dua hari lalu aku menelpon seorang ibu tetangga di Komplek perumahan dimana aku tinggal. Dia punya bisnis air kemasan isi ulang. Aku sudah lama berlangganan dengan dia, tiba-tiba aku mendengar kabar bahwa perusahaan air minum kemasan itu dijual kepihak lain. Aku jadi ragu, jadi aku telpon dia.. lalu kita ngobrol.. Tin aku udah gak sanggup menjalankan itu lagi. Selain aku gak punya pembantu, ada kecenderungan pelanggan berhutang. Kalau ditagih marah. Lho padahal dia yang berhutang tapi dia yang marah.. Lalu lama-lama kok berat ya, jadi aku hanya konsentrasi bikin Yogurt untuk dijual.”... Oh aku bilang yah asal orang yang membeli itu tetap melakukan proses higienis yang sama dengan standard kesehatan. Dia meyakinkan aku bahwa itu tetap dilakukan.. tapi tetap terdengar nada berat dalam bicaranya..

Aku membuat judul ”Perempuan” karena dari ketiga kisah contoh diatas aku melihat fakta bahwa perempuan itu mahluk yang ulet (resilient) dan pada saat dia harus menjadi tulang punggung keluarga ya semua dijalankan. Pada saat menemui kesulitan juga terbukti dia kreatif mencari jalan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Secara relatif tidak banyak gengsi-gengsian, walau pekerjaan apa saja tapi mau dijalankan asalkan keluarga mendapat nafkah. Dan jangan salah, pada kelompok menengah atas diantara teman-teman perempuanku juga sudah beberapa yang mengalami suaminya di PHK atau disuruh pensiun dini sehingga istri menjadi tulang punggung.

Perempuan menjadi tulang punggung memang sudah jamak di Indonesia, tetapi dengan kemerosotan ekonomi hal ini menjadi lebih meluas di banyak lapisan masyarakat.

Disatu sisi, kita wajib bangga ya jadi perempuan, karena berhasil menyajikan keberlangsungan kehidupan yang lebih berkualitas. Apalagi kalau perempuan itu rajin beribadah dan bisa menjadi pengayom bukan saja secara materiel tetapi juga secara rohani bagi suami dan anaknya. Sedangkan disisi lain, karena dia juga ibu rumah tangga, maka sering kali dialah yang membuka wawasan anak-anaknya untuk lebih maju dan terdidik, membukakan jalan untuk anak agar banyak berkreasi dan yang terpenting memberikan bekal moralitas dalam kehidupan bermasyarakat.

Senin, 05 Mei 2008

Pendidikan Akhlak Harus Mulai dari Rumah

(dimuat di Majalah Kartini, tahun 2005)

Berbagai tayangan di televisi dan artikel di media cetak tentang berbagai tindak kejahatan, demo yang berakhir anarkis, tawuran pelajar dan mahasiswa, menyampaikan pesan bahwa sudah sedemikian terpuruknya akhlak moral manusia Indonesia, terutama yang berada di kota-kota besar.

Hal ini sangat memprihatinkan terutama karena Indonesia sedang dilanda masalah multi dimensional mulai dari kemiskinan, kesehatan, bencana alam, korupsi dan turunnya secara drastic moral bangsa.

Berbagai masalah di surat kabar mulai dari anggota DPRD DKI yang dinaikan penghasilannya ditengah jeritan masyarakat karena kenaikan harga BBM, sampai masalah perampokan di bis kota, diatas taxi atau di daerah perumahan penduduk yang sudah seperti kejadian sehari-hari. Hati saya yang paling dalam bertanya kemana sebetulnya hati nurani kita dalam kelompok masyarakat kok hal-hal seperti itu terus saja terjadi.



Semuanya tampak seperti benang kusut, membuat masyarakat jadi apatis dan sedih berkepanjangan.

Dalam lamunan memikirkan itu semua saya bertanya kepada anak saya yang sekarang duduk di kelas 2 SMU. Nak, apakah kamu mendapat pelajaran ahklak di sekolah. Dia masih meminta saya untuk mengklarifikasi apakah yang dimaksud adalah pelajaran budi pekerti. Saya katakan itu bisa menjadi bagian dari pelajaran agama, tapi yang saya maksud intinya adalah – apakah kamu diajarkan hal-hal mendasar, seperti misalnya kalau kamu mendapat tugas menjadi bendahara kelas tidak boleh salah menghitung uang dan tidak boleh menyelewengkan satu sen pun. Bila kamu berjanji dengan guru atau teman harus ditepati, bila kamu berorganisasi bersikaplah yang baik jangan sampai menyakiti perasaan orang dan jangan otoriter. Bila meminjam barang teman harus dikembalikan dan jangan sampai rusak, bila ada teman wanita yang disakiti secara fisik harus dibela… dan seterusnya. Anak saya menjawab.. oh iya itu saya dapat hanya di SD menjadi bagian dari pelajaran Agama tapi hanya diberikan seminggu sekali selama 1 jam.

Lalu saya merenung lagi, yah mungkin itu mestinya dikembangkan dirumah mulai sejak dini anak harus diajarkan mempunyai moral agama dan moral pergaulan social yang peka. Jadi ingat tayangan di televisi tentang Bapak SBY yang sedang duduk dengan keluarganya sambil mengatakan bahwa pendidikan dimulai dari rumah. Yah, alangkah idealnya. Karena mungkin Pak SBY tidak seperti bapak-bapak lain yang sibuk memikirkan besok pagi keluarga saya mau dikasih makan apa karena tidak bekerja…

Dalam dialog dengan anak saya juga pernah dibahas masalah pergaulan bebas. “Ibu, sebetulnya apa yang ibu ajarkan sih kok sekarang ini kalau aku keluar malam dengan teman-teman, begitu jam menunjukan jam 10.00 malam aku sudah gelisah dan ingin segera pulang.” Tanya anak saya suatu hari. Saya terdiam sejenak, memang tidak pernah secara implicit saya mengatakan padanya bahwa ada jam malam dirumah harus pulang sebelum jam 24.00. Tapi saya selalu berdiskusi dengan mereka tentang bagaimana menjaga diri dan kehormatan terutama sebagai wanita. Lalu anak saya berkata lagi, bahwa temannya mengatakan jarang lho jaman sekarang dimana remaja wanita punya internal alert system dalam dirinya.

Moral keluarga memang tanggung jawab kepala keluarga, tetapi secara bangsa mungkin pendidikan harus pegang peranan. Apakah kita butuh 1000 orang A.A Gym untuk berdakwah tentang ahlak ke seluruh Indonesia agar moral kita tidak makin terpuruk ? Apakah tayangan televisi semacam Bedah Rumah, atau Rezeki Nomplok yang notabene membantu rakyat miskin harus diperbanyak untuk menggantikan sinetron yang penuh dengan kekerasan?

Semoga setiap individu tergelitik untuk mengupayakan hal yang sangat mendasar ini. Dan marilah kita mulai dari rumah sendiri…